Pengolahan Kayu Sisa (sawmill)

Indonesia memiliki hutan tropik kedua terluas di dunia dengan nilai ekonomis tinggi bagi negara maupun masyarakat. Peran sektor kehutanan dalam pertumbuhan ekonomi dimulai tahun 1967 melalui konsesi Hak Pengusaha Hutan (HPH). Antara tahun 1967 hingga 1980 sebanyak 519 perusahaan diberik HPH yang mencakup luas 53 juta ha. Sampai dengan juni 1998 terdapat 651 HPH dengan alokasi hutan seluas 69,4 juta ha. Industri kayu dan hasil hutan menghasilkan US$9 milyar pada tahun 1994, US$5,5 milyar diantaranya dari ekspor. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sumbangan devisa dari industri perkayuan mencapai rata-rata 20% dari total perolehan devisa Indonesia.

Mengingat besarnya produksi kehutanan ini, dimana Kabupaten Kuantan Singingi termasuk sebagai produsen kayu utama di Propinsi Riau, maka industri pengolahan kayu dan industri pengolahan kayu sisa/sawmill memiliki prospek yang cukup cerah.

Lokasi

  • Kecamatan Singingi Hilir
  • Kecamatan Kuantan Hilir
  • Kecamatan Inuman

Kapasitas Produksi

  • 1.200 m3 per bulan

Teknis

  • Skala usaha : 6.000 m2
  • Jumlah pabrik : 1 bangunan
  • Tenaga Kerja : 35 – 75 orang

Perkiraan Modal Investasi

  • Rp. 4,5 milyar

Analisa Finansial

  • NPV : Rp. 9.645.287
  • IRR : 14,3%
  • BCR : 4,94
  • BEF : 1.100 m3
  • ROI : 3,24
  • Payback Period : 5 tahun
  • PI : 1,22